19.29
0


Apa yang di maksud dengan Ideologi Muhammadiyah? Bagaimana perbedaan perbedaannya dengan Ideologi gerakan Islam yang lain?
Sejak Muktamar  Ke-45 tahun 2005 di Malang , memang di lingkungan Muhammdiyah banyak diperbincangkan persoalan-persoalan ideologi yang diikuti dengan langkah-langkah pembinaannya berkaitan dengan masuknya paham, misi dan kepentingan lain ke tubuh Muhammadiyah.
Persoalan ideologis yang menyangkut masuknya paham, misi dan kepentingan lain ke dalam Muhammadiyah bukanlah hal yang mengada –ada, tetapi memang nyata. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Timur, dr. H. Agus Sukaca, ketika menyamapaikan lamporan dan pandangan umum Wilayah-Wilayah dalam Tanwir I Muahammadiyah tahun 2007 yang lalu, bahkan menyatakan bahwa “Masuknya pahan lain yang melakukan pengeroposan ideologi Muhammadiyah itu bukan mitos, tetapi fakta”. Karena lemahnya pemahaman ideologi dalam Muhammadiyah, pada saat yang sama kuatnya tarikan ideologi lain, tidak jarang dijumapai sikap sebagai orang yang bersifat mendua atau tidak menunjukkan Komitmen pada Muhammadiyah. Mereka berada di Muhammadiyah, termasuk di amal usaha, tetapi tidak mau berkiprah untuk mengemban misi dan aktif di Muhammadiyah, malah sebaliknya aktif dan membesarkan organisasi/gerakan lain. Tak jarang muncul prilaku yang menyolok, bahkan untuk ber-Hari Raya Idul Fitri / Idul Adha pun mengikuti paham / instruksi dari gerakan islam lain yang berbeda dari Muhammadiyah.
Karena itu tak ada satu Wilayah Muhammdiyah pun yang keberatan dengan surat  Keputusan PP Muahmmadiyah nomor 149 / 2006 tentang Konsolidasi Organisasi dan Amal Usaha Muahmmadiyah, yang intinya memagari Muhammadiyah dengan seluruh lembaga dan aset yang di milikinya dari paham, misi dan Kepentingan lain yang mengeroposkan ideologi Muhammadiyah. Tanwir tahun 2007 itu bahkan mengambil keputusan bulat tentang gerakan Revitalisasi Ideologi Muahmmadiyah, yang menggambarkan tekad dan langkah kuat untuk melakukan peneguhan atau penguatan ideologi Muhammadiyah. Jika masih ada satu dua orang dalam Muhammadiyah. Beberapa Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, jauh sebelum Tanwir, bahkan meminta Pimpinan Pusat untuk bertindak tegas dan mengambil langkah yang bersifat ideologis atas maraknya paham lain yang masuk ke Muhammadiyah.
Alhamdulillah kini tubuh kesadaran baru di seluruh lini organisasi tentang pentingnya peneguhan ideologi Muhammadiyah. Usaha peneguhan ideologi Muhammadiyah tentu saja harus di sertai dengan langkah memahamkan kembali apa itu Muhammdiyah? Selain itu, di perlukan usaha untuk membangun atau menanam Komitmen dalam ber-Muhammadiyah, agar setiap anggota Muhammadiyah dimana pun benar-benar berkiprah sepenuh hati dalam menggerakan dalam memebela paham, misi dan kepentingan Muhammadiyah. Termasuk bagi siapapun yang berada di amal usaha Muhammadiyah. Lebih-lebih bagi kader dan Pimpinna Muhammadiyah.
Soal komitmenn kelihatannya gampang untuk diikarkan tetapi sering tidak mudah untuk dipraktikan. Ketika dipilih Musyawarah bersemangat, tetapi setelah itu tidak aktif menjalankan amanat. Ketika Muhammadiyah sedang menghadapi pihak lain yang melakukan pengeroposan ideologi, tidak menunjukkan pembelaan yang jelas, malah samar-samar memihak gerakan lain itu, atau malah terlibat dalam acara-acara yang diselenggarakan oleh gerakan lain yang nyata-nyata mengganggu keberadaan Muhammadiyah dengan alasan menjalin silaturahim, ukhuwah dan menunjukan tenda besar Muhammadiyah. Padahal ada konteks tertentu yang perlu ada ketegasan sikap, karena tidak jarang Wilayah / Persoalan semacam itu lebih banyak nuansa politiknya ketibang kejernihan bersilaturahim, berukhuwah dan berlintas-hubungan. Gerakanmana pun, lebih-lebih gerakan Islam beridiologi-politik yang militan selalu mementingkan dirinya, bila perlu menggunakan berbagai langkah dari yang lentur hingga pragmatis/ para anggota, kader dan pimpinan Muhammadiyah perlu memposisikan diri secara jelas sebagai pembawa paham, misi dan kepentingan Muhammadiyah. Lainnya tidak.
Berideologi dan berkomitmen pada Muhammadiyahjustru diuji ketika harus melakukan pilihan-pilihan yang tegas, aman kepentingan Muhammadiyah dana mana lainnya di luar kepentingan Muhammadiyah. Kita letakkan silaturahmi, ukhuawah dan berhubungan lintas secara proporsional yang tidak masuk kepolitisasi atau merugikan paham, misi dan kepentingan Muhammadiyah. Pandangan dan sikap organisasi harus di atas pribadi pimpinan, bukan sebaliknya. Namun ada situasi-situasi krusial atau tertentu yang harus melakukan plihan dan sikap yang jelas. Ber-Muhammadiyah, karena kenyakinan akan gerakan Islam yang diembannya, harus sepenuh hati dan tindakan. Penulis ingat pesan tokoh pemberani dan juga murid Kyai Ahmad Dahlan. Kyai Fakhrudin ketika berdialog dengan Yunus Anies muda pada thun 1925 dikediamannya.”Menjadi anggota harus lahir dan batin. Muhammadiyah.”(H. Djarnawi Hadikusuma, Matahari-Matahari Muahmmadiyah,tt.:20). Keyika Fakhruddin kala itu aktif juga di Sarekat Islam (SI) dan ada aturan larangan rangkap jabatan dengan Muhammadiyah hasil keputusan Randublatung tahun 1926, Fakhruddin justru meninggalkan SI dan lebih memilih Muhammadiyah.
Dalam Muhammadiyah segalanya memang harus jelas. Tokoh-tokoh Muhammadiyah dari generasi kegenerasi berikutnya banyak memeberikan teladan soal kejelasan sikap dalam ber-Muhammadiyah. Bahkan Kyai H.A.R. Fakhruddin, yang dikenal luwes dan “kultural” pun, ketika menyangkut paham, misi dan kepentingan Muhammadiyah sangatlah jelas dan tegas. Sebagian orang kadang hanya melihat sisi luwesnya Pak A.R Fakhrudin, namun kadang abai dengan ketegasan beliau ketika menyangkut pembelaan dan pemihakkan pada paham, misi dan kepentingan Muhammadiyah. Tokoh Muhmmadiyah yang memimpin Muhammadiyah seusia rezim Soeharto itu, dengan keluwesannya tetap istiqomah dan tegas dalam ber-Muhammadiyah, dan jauh dari sikap “ambivalen” atau “ apa-apa boleh”. Pak AR Fakhruddin, Pak Djarnawi Hadikusuma, Buya Malik Ahmad, Buya Hamka, Kyai H.M. Djindar Tamimy, hingga Pak Amien Rais dan Buya Syafii Ma’arif, untuk menyebut sejumlah tokoh, memeberikan pelajaran berharga bagaimana menjadi anggota sekaligus tokoh Muhammadiyah yang berkomitmen tinggi. Harus “Muhammadiyah 24 Karat”, kata Buta Syafii Maarif.


Penulis
Haedar Nashir

0 komentar:

Posting Komentar