Apa yang di maksud dengan
Ideologi Muhammadiyah? Bagaimana perbedaan perbedaannya dengan Ideologi gerakan
Islam yang lain?
Sejak Muktamar Ke-45 tahun 2005 di Malang , memang di
lingkungan Muhammdiyah banyak diperbincangkan persoalan-persoalan ideologi yang
diikuti dengan langkah-langkah pembinaannya berkaitan dengan masuknya paham,
misi dan kepentingan lain ke tubuh Muhammadiyah.
Persoalan ideologis yang
menyangkut masuknya paham, misi dan kepentingan lain ke dalam Muhammadiyah bukanlah
hal yang mengada –ada, tetapi memang nyata. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah
Kalimantan Timur, dr. H. Agus Sukaca, ketika menyamapaikan lamporan dan
pandangan umum Wilayah-Wilayah dalam Tanwir I Muahammadiyah tahun 2007 yang
lalu, bahkan menyatakan bahwa “Masuknya pahan lain yang melakukan pengeroposan
ideologi Muhammadiyah itu bukan mitos, tetapi fakta”. Karena lemahnya pemahaman
ideologi dalam Muhammadiyah, pada saat yang sama kuatnya tarikan ideologi lain,
tidak jarang dijumapai sikap sebagai orang yang bersifat mendua atau tidak
menunjukkan Komitmen pada Muhammadiyah. Mereka berada di Muhammadiyah, termasuk
di amal usaha, tetapi tidak mau berkiprah untuk mengemban misi dan aktif di
Muhammadiyah, malah sebaliknya aktif dan membesarkan organisasi/gerakan lain. Tak
jarang muncul prilaku yang menyolok, bahkan untuk ber-Hari Raya Idul Fitri /
Idul Adha pun mengikuti paham / instruksi dari gerakan islam lain yang berbeda
dari Muhammadiyah.
Karena itu tak ada satu Wilayah
Muhammdiyah pun yang keberatan dengan surat
Keputusan PP Muahmmadiyah nomor 149 / 2006 tentang Konsolidasi
Organisasi dan Amal Usaha Muahmmadiyah, yang intinya memagari Muhammadiyah
dengan seluruh lembaga dan aset yang di milikinya dari paham, misi dan
Kepentingan lain yang mengeroposkan ideologi Muhammadiyah. Tanwir tahun 2007
itu bahkan mengambil keputusan bulat tentang gerakan Revitalisasi Ideologi
Muahmmadiyah, yang menggambarkan tekad dan langkah kuat untuk melakukan
peneguhan atau penguatan ideologi Muhammadiyah. Jika masih ada satu dua orang
dalam Muhammadiyah. Beberapa Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, jauh sebelum
Tanwir, bahkan meminta Pimpinan Pusat untuk bertindak tegas dan mengambil
langkah yang bersifat ideologis atas maraknya paham lain yang masuk ke
Muhammadiyah.
Alhamdulillah kini tubuh
kesadaran baru di seluruh lini organisasi tentang pentingnya peneguhan ideologi
Muhammadiyah. Usaha peneguhan ideologi Muhammadiyah tentu saja harus di sertai
dengan langkah memahamkan kembali apa itu Muhammdiyah? Selain itu, di perlukan
usaha untuk membangun atau menanam Komitmen dalam ber-Muhammadiyah, agar setiap
anggota Muhammadiyah dimana pun benar-benar berkiprah sepenuh hati dalam
menggerakan dalam memebela paham, misi dan kepentingan Muhammadiyah. Termasuk bagi
siapapun yang berada di amal usaha Muhammadiyah. Lebih-lebih bagi kader dan
Pimpinna Muhammadiyah.
Soal komitmenn kelihatannya
gampang untuk diikarkan tetapi sering tidak mudah untuk dipraktikan. Ketika dipilih
Musyawarah bersemangat, tetapi setelah itu tidak aktif menjalankan amanat. Ketika
Muhammadiyah sedang menghadapi pihak lain yang melakukan pengeroposan ideologi,
tidak menunjukkan pembelaan yang jelas, malah samar-samar memihak gerakan lain
itu, atau malah terlibat dalam acara-acara yang diselenggarakan oleh gerakan
lain yang nyata-nyata mengganggu keberadaan Muhammadiyah dengan alasan menjalin
silaturahim, ukhuwah dan menunjukan tenda besar Muhammadiyah. Padahal ada
konteks tertentu yang perlu ada ketegasan sikap, karena tidak jarang Wilayah /
Persoalan semacam itu lebih banyak nuansa politiknya ketibang kejernihan
bersilaturahim, berukhuwah dan berlintas-hubungan. Gerakanmana pun, lebih-lebih
gerakan Islam beridiologi-politik yang militan selalu mementingkan dirinya,
bila perlu menggunakan berbagai langkah dari yang lentur hingga pragmatis/ para
anggota, kader dan pimpinan Muhammadiyah perlu memposisikan diri secara jelas
sebagai pembawa paham, misi dan kepentingan Muhammadiyah. Lainnya tidak.
Berideologi dan berkomitmen pada
Muhammadiyahjustru diuji ketika harus melakukan pilihan-pilihan yang tegas,
aman kepentingan Muhammadiyah dana mana lainnya di luar kepentingan
Muhammadiyah. Kita letakkan silaturahmi, ukhuawah dan berhubungan lintas secara
proporsional yang tidak masuk kepolitisasi atau merugikan paham, misi dan
kepentingan Muhammadiyah. Pandangan dan sikap organisasi harus di atas pribadi
pimpinan, bukan sebaliknya. Namun ada situasi-situasi krusial atau tertentu
yang harus melakukan plihan dan sikap yang jelas. Ber-Muhammadiyah, karena
kenyakinan akan gerakan Islam yang diembannya, harus sepenuh hati dan tindakan.
Penulis ingat pesan tokoh pemberani dan juga murid Kyai Ahmad Dahlan. Kyai
Fakhrudin ketika berdialog dengan Yunus Anies muda pada thun 1925
dikediamannya.”Menjadi anggota harus lahir dan batin. Muhammadiyah.”(H. Djarnawi
Hadikusuma, Matahari-Matahari
Muahmmadiyah,tt.:20). Keyika Fakhruddin kala itu aktif juga di Sarekat
Islam (SI) dan ada aturan larangan rangkap jabatan dengan Muhammadiyah hasil
keputusan Randublatung tahun 1926, Fakhruddin justru meninggalkan SI dan lebih
memilih Muhammadiyah.
Dalam Muhammadiyah segalanya
memang harus jelas. Tokoh-tokoh Muhammadiyah dari generasi kegenerasi
berikutnya banyak memeberikan teladan soal kejelasan sikap dalam
ber-Muhammadiyah. Bahkan Kyai H.A.R. Fakhruddin, yang dikenal luwes dan “kultural”
pun, ketika menyangkut paham, misi dan kepentingan Muhammadiyah sangatlah jelas
dan tegas. Sebagian orang kadang hanya melihat sisi luwesnya Pak A.R Fakhrudin,
namun kadang abai dengan ketegasan beliau ketika menyangkut pembelaan dan
pemihakkan pada paham, misi dan kepentingan Muhammadiyah. Tokoh Muhmmadiyah
yang memimpin Muhammadiyah seusia rezim Soeharto itu, dengan keluwesannya tetap
istiqomah dan tegas dalam ber-Muhammadiyah, dan jauh dari sikap “ambivalen”
atau “ apa-apa boleh”. Pak AR Fakhruddin, Pak Djarnawi Hadikusuma, Buya Malik
Ahmad, Buya Hamka, Kyai H.M. Djindar Tamimy, hingga Pak Amien Rais dan Buya
Syafii Ma’arif, untuk menyebut sejumlah tokoh, memeberikan pelajaran berharga
bagaimana menjadi anggota sekaligus tokoh Muhammadiyah yang berkomitmen tinggi.
Harus “Muhammadiyah 24 Karat”, kata Buta Syafii Maarif.
Penulis
Haedar Nashir

0 komentar:
Posting Komentar